Home TRADING SAHAM HARGA SAHAM Pasar Fluktuatif, Jadi Alasan Blue Bird Turunkan Harga dan Jumlah Saham

Pasar Fluktuatif, Jadi Alasan Blue Bird Turunkan Harga dan Jumlah Saham

957
0
SHARE

saham_bluebirdPT Blue Bird Tbk sempat menurunkan harga perdana saham dan jumlah saham yang ditawarkan ke publik saat pelaksanaan Penawaran Umum Perdana Saham (Initial Public Offring/IPO). Ini penjelasan manajemen terkait hal tersebut.
“Kondisi pasar domestik dan global, waktu itu (bookbuilding) sedang berfluktuatif cukup tinggi, belum ada kepastian, jadi kami turunkan harganya dan jumlah saham yang dilepas,” kata Direktur Keuangan Blue Bird, Robert Rerimasie, di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (5/11/2014).

Dengan penurunan harga perdana saham, Robert menilai, hal tersebut semata-mata untuk memberikan rasa nyaman bagi calon investor dalam berinvestasi di Blue Bird. “Selain buat nyaman, juga agar investor tidak merasa rugi investasi di Blue Bird,” ucapnya.

Diketahui, harga penawaran perdana saham yang ditawarkan waktu itu di kisaran Rp 7.200 sampai Rp 9.300 per saham. Namun, akhirnya perseroan menetapkan harga perdana saham di angka Rp 6.500 per saham.

Sementara, jumlah saham yang akan dilepas awalnya sebanyak 531,4 juta saham, akan tetapi kenyataannya Blue Bird hanya melepas 376,5 juta saham.

Direktur Utama Blue Bird, Purnomo Prawiro, menambahkan selain menawarkan di dalam negeri, saham Blue Bird juga ditawarkan di negara lain, seperti Kuala Lumpur, Singapura, Hong Kong, London, New York, dan Boston.
“Hasilnya memuaskan, di mana pada akhir masa book building saham perseroan mengalami oversubscribe beberapa kali,” ucapnya di tempat yang sama.

Tercatat, saham BIRD pada pencatatan perdananya hari ini dibuka menguat 600 poin atau 9,23 persen jadi Rp 7.100 dari harga yang ditetapkan perseroan sebesar Rp 6.500 per saham.

Perusahaan operator taxi ini merupakan emiten ke-19 yang listing pada tahun ini, meraup dana segar dari hasil IPO sebesar Rp 2,44 triliun dari jumlah saham yang dilepas 376,5 juta saham.

Dana tersebut, sebanyak 53,04 persen akan digunakan untuk melunasi pinjaman, sedangkan 46,96 persen akan digunakan untuk membiayai belanja modal perseroan dan entitas anak.

Adapun penjamin emisi pelaksana, perseroan menujuk PT Credit Suisse Securities Indonesia, PT Danareksa Sekuritas dan PT UBS Securities Indonesia.