Home Obligasi Kredit BTPN tumbuh 15 persen

Kredit BTPN tumbuh 15 persen

894
0
SHARE

bank-btpnPT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk mencatatkan pertumbuhan kredit semester I 2014 sebesar 15 persen menjadi Rp50 triliun dari Rp43,6 triliun pada 30 Juni 2013.

Direktur Utama BTPN Jerry Ng mengatakan 2014 menjadi periode penuh tantangan bagi industri perbankan. Menjalankan fungsi intermediasi bank dalam kondisi pertumbuhan ekonomi yang melambat merupakan tantangan tidak mudah.

“Dalam menyikapinya, BTPN berfokus melakukan hal-hal fundamental secara konservatif dan prudent, prinsip dasar yang biasanya dijadikan pegangan oleh sebuah bank dalam menghadapi situasi seperti ini,” kata Jerry dalam pernyataan resmi di Jakarta, Senin.

Langkah yang diambil BTPN, lanjut Jerry, antara lain adalah meningkatkan cadangan likuiditas, menjaga kualitas kredit dengan baik, mengelola biaya bunga dan biaya operasional secara cermat.

Dengan strategi tersebut kinerja BTPN dapat terjaga sehat. Selain kredit yang tumbuh moderat dan sehat, tingkat rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) juga terjaga rendah dengan rasio NPL gros 0,9 persen.

Seiring dengan langkah perusahaan untuk lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit, BTPN menyeimbangkan porsi pendanaan dengan memperhatikan kecukupan likuiditas.

Per 30 Juni 2014, Dana Pihak Ketiga (DPK) BTPN tercatat Rp52,7 triliun, tumbuh 10 persen dari periode yang sama tahun lalu Rp 47,7 triliun. Pertumbuhan DPK sebesar 10 persen (yoy) ini juga lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan DPK triwulan I-2014 yang meningkat 6 persen (yoy).

Loan to deposit ratio (LDR) terjaga di level 95 persen. Apabila memperhitungkan pendanaan dari obligasi, rasio likuiditas kami mencapai 85 persen, ini merupakan tingkat yang kuat dan sehat, kata Jerry.

Pertumbuhan yang cukup moderat pada sisi kredit dan DPK, mendorong peningkatan aset BTPN sebesar 12 persen (yoy) dari Rp63,9 triliun menjadi Rp71,4 triliun pada 30 Juni 2014, dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 23,4 persen.

Sementara itu, laba bersih setelah pajak (NPAT) pada triwulan II meningkat 1,9 persen dari Rp493 miliar pada triwulan I-2014 menjadi Rp502 miliar. Dibandingkan dengan semester I 2013, laba bersih BTPN pada semester I 2014 lebih rendah 10 persen, dari Rp1,1 triliun pada semester I 2013 menjadi Rp996 miliar pada semester I 2014.

“Ke depan, kami memperkirakan kondisi makro ekonomi masih menantang. Namun demikian, komitmen kami untuk fokus menggarap pasar masyarakat berpenghasilan rendah tidaklah surut,” ujar Jerry.