Home ANALISA SAHAM ANALISA FUNDAMENTAL Dolar Naik Bawa Bursa Asia Aman

Dolar Naik Bawa Bursa Asia Aman

241
0
SHARE

Bursa Asia menguat terdorong pada kenaikan kembali Dolar Amerika Serikat. Pasar juga tengah mengolah gagasan kebijakan Bank Rakyat China serta Bank Sentral Eropa yang juga akan diumumkan pada akhir minggu.

Merilis situs CNBC, hari Senin 11/9/2017, indeks Nikkei 225 naik 1,25 % serta indeks Kospi KORSEL masih tetap tertekan 0,99 %, bersamaan meredanya kemelut geopolitik di semenanjung Korea sepanjang akhir pekan.

Sesaat Down Under, S&P/ASX 200 bergerak naik 0,48 %, dengan sub-indeks tehnologi info serta kesehatan memimpin kenaikan.

Sedangkan bursa Asia kembali melaju selesai Korea Utara nyatanya tidak sekali lagi meluncurkan rudalnya tanggal 9 September, yang disebut-sebut adalah hari berdirinya negara itu. Sebelumnya, keluar spekulasi mendekati akhir minggu kalau Korea Utara juga akan kembali lakukan eksperimen rudal waktu peristiwa itu.

Di bagian lain, pasar juga tengah memonitor gagasan Bank sentral China yang menginginkan memperingan kriteria untuk instansi keuangan, untuk menyisihkan cadangan resiko valuta asing untuk perdagangan yuan pada 11 September, susai yang dikutip dari Reuters.

” Kriteria ini diberlakukan bulan Oktober 2015 untuk kurangi spekulasi valuta asing. Ini tunjukkan pendekatan liberalisasi perdagangan yang lebih liberal dikarenakan PBOC menghapus sebagian mekanisme defensif yang diaplikasikan untuk kurangi arus modal keluar, ” jelas Stephen Innes, Kepala Perdagangan Asia Pasifik OANDA, lewat catatannya.

Disamping itu, Bank Sentral Eropa yang mempertimbangkanpilihan untuk kurangi pembelian obligasi jadi 20 miliar euro setara dengan 40 miliar euro untuk per bulan dari 60 miliar euro sekarang ini. Ketentuan bank sentral itu diprediksikan juga akan di sampaikan dalam pertemuan tanggal 26 Oktober.

Dalam mata uang, indeks dolar, yang mengukur greenback pada enam mata uang paling utama, hanya bergerak naik tipis 91,462 sesudah turun hari Jumat. Indeks dolar  pekan ini selesai di  91,325. Analis menghubungkan melemahnya dolar berkaitan kemelut geopolitik serta akibat ekonomi Badai Harvey serta Irma.